ADA APA DENGANMU LIA…?



            Seorang gadis kecil menangis meraung-raung di ruang tamu, tak dipedulikannya semua orang yang berusaha menakut-nakutinya dengan tujuan ia menghentikan suara tangisannya yang berisik memekakkan telinga, membahana memenuhi seluruh sudut rumah, juga melenggang dengan bebasnya diterbangkan angin nakal yang ingin berbagi suara tangis si gadis badung itu dengan para tetangga dan orang-orang yang kebetulan lewat didepan rumahnya. Ia tak peduli  bahkan bila deretan nama-nama setan  sekalipun di paparkan untuk membuatnya takut, tapi ia tetap tak bergeming, dia sedang asyik dengan dunianya sendiri. Menggelepar-gelepar, meronta  bagaikan ikan yang kekurangan air. Orang tuanya memanggil teman-temannya berharap ia akan berhenti menangis karena malu ada temannya melihat kelakuannya. Tapi dasar anak-anak mereka tak membuatnya diam, malah semakin menjadi, karena diolok-olok. Tak pelak benda apapun yang ada didekatnya melayang kearah teman-teman yang mengolok-oloknya, sontak rombongan anak-anak itupun bubar, ada yang melarikan diri, namun ada juga yang membalas lemparannya, dengan meneriakinya “gila”.  Gadis kecil itupun berlari masuk kebawah kolong tempat tidurnya.  Orang-orang yang sibuk menenangkannya atau yang menakut-nakuti, dan menyakitinya bahkan nyaris menyerah. Ya ia tersakiti, tak hanya tubuhnya  akan tetapi juga jiwanya tak luput dari rasa sakit, tapi ia tidak perduli, ia akan tetap mengulanginya lagi bila ia merasa tidak nyaman akan sesuatu.
            Bila sudah seperti itu, berjam-jam lamanya ia akan betah untuk berkreasi dengan lagunya yang  bahkan mungkin mampu membuat pabrik obat sakil kepala laris manis dibuatnya, demi memenuhi permintaan pembeli korban kebrutalan lantunan irama yang cetar nan sumbang. Cicak di dinding semuanya bersembunyi menyelamatkan diri, bila tahu caranya menggunakan kapas untuk menyumbat lubang telinga mereka,  mungkin para cicak di rumah tersebut  akan menambah tugasnya menjadi penguntit kapas selain menjadi penguntit butiran nasi
Sebagian cat di dinding rumah yang mulai mengelupas, mempercepat menggugurkan diri jatuh ke lantai yang dingin, bahkan laba-labapun menggulungkan sarangnya untuk bersembunyi, hanya jam dinding  yang tetap bergerak seirama waktu yang terus berputar, seakan stop watch yang akan menghitung berapa lama kepiawaian si gadis kecil meluapkan tangisan protesnya.
Sudah hamper lima jam, sinar matahari sudah mulai meredupkan diri, setelah letih seharian memanggang apapun yang terkena sinarnya, begitupun si gadis kecil sudah mulai letih, tangisannya tak lagi menghentak, berganti sedu sedan kecil yang timbul tenggelam karena menahan kantuk, dan iapun akhirnya tertidur dengan wajah yang kusut dan cemong sisa air mata yang mulai mengering. Entah apa yang diimpikan dalam  tidurnya, tapi sesekali suara tangisnya yang sesenggukan terdengar kembali.
Para penghuni rumah sibuk dengan urusan masing-masing, diluar rumah terdengar ada anggota keluarga dan tetangganya yang sedang memperbincangkan kelakuan si gadis kecil,yang baru saja terjaga, ia mendengarnya lamat-lamat di bawah kolong tempat tidurnya yang gelap, namun baginya kolong tempat tidur itu sahabat terbaiknya. Tak pelak pecahlah kembali tangisannya mendengar perbincangan tersebut.  
Dari kejauhan terdengar suara adzan maghrib berkumandang, hari semakin gelap, segelap hati si gadis kecil, suara jangkrik sayup-sayup terdengar  menghiasi suasana. Datanglah suami tetangganya tadi, ia baru pulang dari menarik becak, dengan lemah lembut ia membujuk si gadis kecil agar mau menurut apa katanya.
“Sudah diam, jangan nangis terus, tuh kan badanmu kotor, ayo lekas mandi, banyak kumannya lho Lia” kata Kak Apin suami Yu Mia, seraya menarik Lia dari bawah kolong tempat tidurnya dan segera menggendongnya ke belakang untuk mandi.
Lia hanya menurut saja, air yang dingin mengguyur tubuhnya yang penat setelah hampir seharian menangis, ditambah debu tipis di bawah kolong tempat tidurnya, membuat tubuhnya semakin gerah.Tapi dengan mandi terasa menyejukkan dan air mata tanpa suarapun ikut jatuh bersama jatuhnya air mandinya.
Kak Apin dan Yu Mia adalah tetangga Lia, pasangan itu usianya lebih muda beberapa tahun dari orang tua Lia, mereka baru dikaruniai satu orang anak laki-laki. Lia sendiri tinggal dengan Nenek, Ibu, dan adik-adiknya, Bapaknya merantau untuk mencari nafkah di luar pulau.
Lia sudah selesai mandi, kini ia makan dengan disuapi Kak Apin, lagi-lagi air matanya jatuh meleleh bercampur nasi yang ia makan, selesai makan Lia digendong kerumah Kak Apin , malam itu Lia tidur dirumah Kak Apin dan Yu Mia.Udara malam itu terasa dingin, bintang dan rembulan tersenyum melihat Lia yang tidur dengan pulasnya, mungkin mereka sedikit bingung akan cerita matahari tentang Lia siang tadi
Ayam jago berkokok bersahut-sahutan, mentari pagi tampak masih malas untuk keluar dari peraduannya, tapi karena penasaran dengan kabar Lia di pagi hari ini, serta merta mentaripun segera menyingkirkan tabir awan yang menyelimutinya.
Lia sudah siap berangkat sekolah, seakan ia sudah lupa dengan apa yang dilakukannya seharian kemarin, beberapa teman dan tetangganya menyapanya, Liapun tersenyum tersipu malu, menyahuti sapaan mereka dengan suaranya yang serak efek menangis kemarin, begitupun sesampainya di sekolah, gurunyapun mau tak mau bertanya, dan mencari tahu penyebab akan berubahnya suara Lia.
Lia…Lia… Ada ada saja…



0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.