Seorang gadis kecil menangis meraung-raung di ruang tamu,
tak dipedulikannya semua orang yang berusaha menakut-nakutinya dengan tujuan ia
menghentikan suara tangisannya yang berisik memekakkan telinga, membahana
memenuhi seluruh sudut rumah, juga melenggang dengan bebasnya diterbangkan
angin nakal yang ingin berbagi suara tangis si gadis badung itu dengan para
tetangga dan orang-orang yang kebetulan lewat didepan rumahnya. Ia tak
peduli bahkan bila deretan nama-nama
setan sekalipun di paparkan untuk
membuatnya takut, tapi ia tetap tak bergeming, dia sedang asyik dengan dunianya
sendiri. Menggelepar-gelepar, meronta
bagaikan ikan yang kekurangan air. Orang tuanya memanggil teman-temannya
berharap ia akan berhenti menangis karena malu ada temannya melihat
kelakuannya. Tapi dasar anak-anak mereka tak membuatnya diam, malah semakin
menjadi, karena diolok-olok. Tak pelak benda apapun yang ada didekatnya
melayang kearah teman-teman yang mengolok-oloknya, sontak rombongan anak-anak
itupun bubar, ada yang melarikan diri, namun ada juga yang membalas
lemparannya, dengan meneriakinya “gila”.
Gadis kecil itupun berlari masuk kebawah kolong tempat tidurnya. Orang-orang yang sibuk menenangkannya atau
yang menakut-nakuti, dan menyakitinya bahkan nyaris menyerah. Ya ia tersakiti,
tak hanya tubuhnya akan tetapi juga
jiwanya tak luput dari rasa sakit, tapi ia tidak perduli, ia akan tetap
mengulanginya lagi bila ia merasa tidak nyaman akan sesuatu.
Bila sudah seperti itu, berjam-jam lamanya ia akan betah
untuk berkreasi dengan lagunya yang
bahkan mungkin mampu membuat pabrik obat sakil kepala laris manis
dibuatnya, demi memenuhi permintaan pembeli korban kebrutalan lantunan irama
yang cetar nan sumbang. Cicak di dinding semuanya bersembunyi menyelamatkan
diri, bila tahu caranya menggunakan kapas untuk menyumbat lubang telinga
mereka, mungkin para cicak di rumah
tersebut akan menambah tugasnya menjadi
penguntit kapas selain menjadi penguntit butiran nasi
Sebagian
cat di dinding rumah yang mulai mengelupas, mempercepat menggugurkan diri jatuh
ke lantai yang dingin, bahkan laba-labapun menggulungkan sarangnya untuk
bersembunyi, hanya jam dinding yang
tetap bergerak seirama waktu yang terus berputar, seakan stop watch yang akan
menghitung berapa lama kepiawaian si gadis kecil meluapkan tangisan protesnya.
Sudah
hamper lima jam, sinar matahari sudah mulai meredupkan diri, setelah letih
seharian memanggang apapun yang terkena sinarnya, begitupun si gadis kecil
sudah mulai letih, tangisannya tak lagi menghentak, berganti sedu sedan kecil
yang timbul tenggelam karena menahan kantuk, dan iapun akhirnya tertidur dengan
wajah yang kusut dan cemong sisa air mata yang mulai mengering. Entah apa yang
diimpikan dalam tidurnya, tapi sesekali suara
tangisnya yang sesenggukan terdengar kembali.
Para
penghuni rumah sibuk dengan urusan masing-masing, diluar rumah terdengar ada
anggota keluarga dan tetangganya yang sedang memperbincangkan kelakuan si gadis
kecil,yang baru saja terjaga, ia mendengarnya lamat-lamat di bawah kolong
tempat tidurnya yang gelap, namun baginya kolong tempat tidur itu sahabat
terbaiknya. Tak pelak pecahlah kembali tangisannya mendengar perbincangan
tersebut.
Dari
kejauhan terdengar suara adzan maghrib berkumandang, hari semakin gelap, segelap
hati si gadis kecil, suara jangkrik sayup-sayup terdengar menghiasi suasana. Datanglah suami
tetangganya tadi, ia baru pulang dari menarik becak, dengan lemah lembut ia
membujuk si gadis kecil agar mau menurut apa katanya.
“Sudah
diam, jangan nangis terus, tuh kan badanmu kotor, ayo lekas mandi, banyak
kumannya lho Lia” kata Kak Apin suami Yu Mia, seraya menarik Lia dari bawah
kolong tempat tidurnya dan segera menggendongnya ke belakang untuk mandi.
Lia
hanya menurut saja, air yang dingin mengguyur tubuhnya yang penat setelah
hampir seharian menangis, ditambah debu tipis di bawah kolong tempat tidurnya,
membuat tubuhnya semakin gerah.Tapi dengan mandi terasa menyejukkan dan air
mata tanpa suarapun ikut jatuh bersama jatuhnya air mandinya.
Kak
Apin dan Yu Mia adalah tetangga Lia, pasangan itu usianya lebih muda beberapa
tahun dari orang tua Lia, mereka baru dikaruniai satu orang anak laki-laki. Lia
sendiri tinggal dengan Nenek, Ibu, dan adik-adiknya, Bapaknya merantau untuk
mencari nafkah di luar pulau.
Lia
sudah selesai mandi, kini ia makan dengan disuapi Kak Apin, lagi-lagi air
matanya jatuh meleleh bercampur nasi yang ia makan, selesai makan Lia digendong
kerumah Kak Apin , malam itu Lia tidur dirumah Kak Apin dan Yu Mia.Udara malam
itu terasa dingin, bintang dan rembulan tersenyum melihat Lia yang tidur dengan
pulasnya, mungkin mereka sedikit bingung akan cerita matahari tentang Lia siang
tadi
Ayam
jago berkokok bersahut-sahutan, mentari pagi tampak masih malas untuk keluar
dari peraduannya, tapi karena penasaran dengan kabar Lia di pagi hari ini,
serta merta mentaripun segera menyingkirkan tabir awan yang menyelimutinya.
Lia
sudah siap berangkat sekolah, seakan ia sudah lupa dengan apa yang dilakukannya
seharian kemarin, beberapa teman dan tetangganya menyapanya, Liapun tersenyum
tersipu malu, menyahuti sapaan mereka dengan suaranya yang serak efek menangis
kemarin, begitupun sesampainya di sekolah, gurunyapun mau tak mau bertanya, dan
mencari tahu penyebab akan berubahnya suara Lia.
Lia…Lia…
Ada ada saja…
0 komentar:
Posting Komentar