Bila muncul tren wanita tak lagi mau menikah, apalagi melahirkan, maka akan menimbulkan dampak
serius di masa mendatang untuk keberlangsungan suatu kaum atau Bangsa. Hal ini
di mungkinkan salah satu penyebabnya
adalah karena semakin tipisnya keimanan kaum wanita, sehingga mulai melupakan
kodratnya sendiri sebagai wanita, juga bisa di sebabkan banyak factor yang
lain.
Tuntutan kebutuhan hidup yang semakin tinggi, menjadikan manusia
berlomba-lomba untuk bekerja demi memenuhi kebutuhannya, tak terkecuali wanita,
di tambah budaya modern yang sangat menyuguhkan beragam cara hidup yang membuat
wanita terlena dan asyik terjebak di dalamnya. Sehingga berumah tangga dan
memiliki momongan menjadi suatu momok yang harus di hindari, karena akan
membelit wanita dengan beragam persoalan yang sedini mungkin harus di hindari
bagi mereka, demi mereguk kepuasan hidup yang bisa di katakana semu adanya.
Dunia modern utamanya di
Negara-negara maju memiliki semboyan
hidup yang mengabdikan diri untuk berlomba menarget akan pencapaian karier, kekayaan, keangkuhan, dan
ragam pencapaian yang lain. Sehingga memiliki kecenderungan memperbudak manusia
berkarakter individualis, melakukan
persaingan yang tidak sehat, dan yang terparah adalah bila sudah menjadikan
waktu sebagai Tuhan.
Waktu adalah sesuatu yang paling di hargai, sehingga kehadiran
pendamping hidup dalam ikatan pernikahan, terlebih seorang bayi hanya akan
menghabiskan waktu, tenaga dan biaya. Kenapa waktu….??? Karena dengan memiliki seseorang
yang harus di rawat, maka akan sangat menyita waktu dan perhatian, menjadikan
beban kerja bertambah, konsentrasi di tempat kerja terganggu, bahkan terpaksa harus meninggalkan pekerjaan untuk
beberapa waktu untuk cuti hamil dan memulihkan diri pasca persalinan.
Pengeluaran bertambah untuk kebutuhan merawat bayi, karena harus mencari
asisten rumah tangga, atau menitipkannya di semacam Taman Penitipan Anak. Bila biaya yang di keluarkan tak
sebanding dari gaji yang diperoleh di
tempat kerja, maka mau tidak mau, seorang Ibu bahkan harus rela meninggalkan
pekerjaannya untuk merawat bayinya. Karena itu waktu menjadi factor penentu
dari segala sebab akibat yang di timbulkan.
Wanita modern umumnya di negara-negara maju cenderung akan lebih
memilih mempertahankan karir daripada di ribetkan dengan tetek bengek hal semacam
itu, dia tidak akan rela bila karir bagus yang sudah di dapat dengan berbagai
rintangan dan persaingan terganggu, bahkan di mungkinkan lepas begitu saja
karena proses hamil dan melahirkan, atau
menjadi seorang Ibu.
Budaya wanita modern semacam ini membuat beberapa negara maju
memutuskan mengambil bermacam kebijakan memberikan bermacam fasilitas dan
tunjangan bagi penduduknya yang bersedia mempunyai anak, demi menanggulangi
dampak buruk yang akan dialami negaranya bila mayoritas penduduknya dalam hal
ini wanitanya tidak bersedia untuk melahirkan, untuk menjaga keseimbangan
antara populasi penduduk usia lanjut, usia produktif dan anak-anak.
Bermacam dampak dari menurunnya jumlah angka kelahiran pada suatu
negara yang berkelanjutan, menurut sumber yang saya baca adalah, melambatnya
potensi pertumbuhan ekonomi, yang di kenal dengan istilah GDP (gross domestic
product) di sebabkan daya konsumsi masyarakat
rendah, menjadikan pasar lesu dan biaya standar hidup pun akan mengalami
penurunan. Dampak lainnya, dana pensiun dan biaya untuk kesejahteraan sosial
akan meningkat, sementara pajak yang di hasilkan dari penduduk usia produktif menurun,
demikian juga alokasi kesehatan untuk para lansia akan meningkat.
Jika kita mau merenungi bagaiman masa depan kita tanpa seorang
anak, siapa yang akan merawat kita bila tiba masanya kita menjadi tua dan
rapuh, sudah tak sanggup lagi berbuat apa-apa untuk diri kita, tanpa
orang-orang yang mengasihi kita. Mungkin hal ini tidak akan terjadi, sebab penyesalan datangnya lambat dan selalu hadir
di belakang.
Jauhkan angan-angan untuk tinggal di sebuah panti jompo saat kita
tua, saya sudah pernah mengetahui dengan mata kepala saya sendiri bagaimana
menderitanya sebagian dari mereka yang berada di panti Jompo. Para penghuni
panti jompo tidak hanya orang-orang tua yang tidak memiliki keturunan, ironisnya ada juga
para orang tua yang sengaja di titipkan di situ oleh anak kandungnya karena
sesuatu, dan lain hal.
Kenapa semua itu sampai terjadi…??? Jawabnya adalah, kemungkinan
dari cara
mendidik anak yang salah di masa lalu Maka untuk mengantisipasi dampak
terburuk yang akan kita terima, bila kita di beri anugerah berupa anak oleh
Allah SWT, sebisa mungkin jagalah, bimbinglah ia dengan cara memberikan
pendidikan yang terbaik, khususnya dan utamanya adalah pendidikan agama, dalam
hal ini yang sesuai
dengan tuntunan Al- Qur’an, karena di dalamnya terdapat pengajaran budi pekerti, dan moral
yang di tentukan oleh Allah SWT pencipta
dari manusia itu sendiri. Cukupi kebutuhannya dengan jalan rezeki yang halal. Apa yang kita tanam kelak
itu yang akan kita petik.
SEMOGA BISA MENJADIKAN RENUNGAN
Sumber
: Jawa Pos
0 komentar:
Posting Komentar