Menurut sejarahnya
peringatan hari raya valentine berasal
dari bangsa Romawi, bermula dari kisah
seorang Santo Valentine yang di hukum mati dengan cara di penggal kepalanya pada tanggal 14 Februari 270 Masehi, karena melanggar
peraturan Kaisar Claudius tentang larangan
menikah ataupu menikahkan bagi rakyatnya.
Sebelum terjadinya tragedy yang menimpa Santo Valentine, bangsa Romawi
sebenarnya mempunyai tradisi memperingati hari raya untuk memuja Dewa mereka yang bernama
Lupercus setiap tanggal 15 Sebagai peringatan hari kasih sayang, namun ada juga
yang menyebutkan memperingati hari
kesuburan. Kemudian semenjak kisah Santo
Valentine tersebut, gereja katolik
merubah tradisi memperingati Dewa Lupercus menjadi memperingati Santo
Valentine. Dalam perkembangan
selanjutnya hari raya Valentine pun
mulai di tiadakan, namun masih ada juga kelompok gereja yang tetap
memperingatinya.
Perkembangan
akhir-akhir ini peringatan Valentine semakin di ekspos sedemikian rupa,
berbagai macam pernak pernik valentine sengaja di pajang di pertokoan dan Mall
jauh hari sebelumnya. Perayaan valentine bagi para ABG yang mulai suka meniru
gaya hidup orang Barat atau modern, mereka memaknai valentine tak ubahnya sebagai
moment pembenaran untuk
melepaskan keperawanan seorang gadis oleh kekasihnya, sebagai
pembuktian dari rasa cinta, dengan imbalan beberapa kotak coklat maupun bunga sebagai
imbalannya, sungguh sangat ironis sekali, keperawanan yang suci dan sangat
berharga di tukar dengan nilai yang
sangat murah, perilaku yang sangat-sangat
tidak selayaknya di tiru dan di
luar norma kesusilaan. Dalam dalam
pandangan agama perbuatan semacam ini
sangat- sangat di haramkan, termasuk perbuatan zina yang nyata
senyata-nyatanya. Bahkan ada berita yang
menyebutkan, bahwa MUI telah mengeluarkan fatwa haram mengenai
perayaan Valentine ini
Valentine days sudah di
salah kaprahkan, di salah gunakan, maka saat moment tersebut bakal di peringati
beberapa hari lagi, kita semua dari segala pihak yang berkepentingan dari mulai
orang tua, masyarakat, dan pemerintah harus mengantisipasinya.
Para orang tua harus
lebih intensif dalam mengawasi kegiatan dan perilaku anak-anaknya beberapa hari
ini, memperketat izin keluar rumah bagi anak, dan mendampingi anak bilamana
memaksa tetap memerlukan keluar rumah, terutama saat moment valentine di
peringati, demikian juga masyarakat harus turut pro aktif mengamati dan menegur
bilamana ada aktifitas anak-anak muda
yang mencurigakan. Pemerintah bekerjasama dengan guru juga dapat membantu
melalui kampanye, bisa dalam bentuk tayangan iklan maupun penyelenggaraan
penyuluhan di sekolah-sekolah dll, tentang berbagai macam perilaku yang
membahayakan dan dampak negative yang di timbulkan. Pemerintah dalam hal ini
juga dapat membuat kebijakan melalui penerapan aturan jam malam, aturan pembatasan
penjualan miras dan kondom dll. Penjualan miras dan kondom di moment valentine
dari tahun ke tahun cenderung mengalami
peningkatan yang cukup signifikan, demikian juga penggunaan zat
aditif yang kita kenal sebagai narkoba dan sejenisnya seperti yang di lansir
di media.
Mencegah lebih baik
daripada mengobati, generasi muda kita perlu di selamatkan dari penanaman moral
yang salah, sebab di sinyalir ada
indikasi propaganda secara terang-terangan maupun terselubung, untuk
melunturkan moral generasi muda kita oleh oknum yang tidak bertanggung jawab baik
melalui media cetak maupun elektronik dsb.
Mari segera berbenah, berikan dan tanamkan ilmu agama yang kuat pada generasi
muda kita, dengan mencintai Allah dan Rasulnya, serta mengamalkan perintah dan
ajaran yang benar dari Allah SWT. Agar anak cucu kita selamat di kehidupan
dunia dan akhirat….Aamiin yra….
TERIMA KASIH
Dari pengamatan dan segala sumber